Kejadiannya bukan hari ini, tapi kemarin. Aku begitu bersemangat dan menantikan hari kemarin. Maklum saja, bertemu seorang yang spesial membuatku bersemangat dan menantikan hari itu.
Mari mulai.
Pakai baju apa? Pakai alas kaki yang mana? Bawa jaket atau tidak? Akhirnya keputusan pun diambil. Aku mengenakan baju saat pertama kali bertemu dengannya. Sempat bingung memilih alas kaki apa yang akan digunakan berhubung ini musim hujan. Sandal? Atau malah sepatu? Kutengok sebentar ke arah langit. Terang. Cenderung panas, menurutku. Akhirnya kuputuskan untuk mengenakan sepatu. Ya, Converse merahku sepadan dengan warna bajuku. Penampilanku nyaris sama dengan saat pertama kali bertemu dengannya. Hanya saja tak kubawa serta jaketku karena kupikir tidak akan hujan.
Bismillah. Berangkat menuju Depok.
Ojek beralih ke metro mini menuju Stasiun Tebet. Turun dari metro mini, pas sekali ada kereta yang akan datang ke arah Bogor. Segera kubeli karcis ekonomi di loket dan masuk ke peron. Kereta datang. Penuh sesak bermacam manusia kulihat di gerbong-gerbongnya. Kuputuskan tak jadi menaikinya dan menunggu kereta selanjutnya. Berharap tak harus menunggu lama untuk kereta berikut. Bersabar menunggu, akhirnya harapan itu menjadi kenyataan. Kereta berikutnya datang tak lama kemudian. Dan terlihat jauh lebih lowong. Alhamdulillah, mungkin ini hadiah dari sedikit kesabaranku, ujarku dalam hati. Semoga tidak telat sampai di sana. Di daerah Pasar Minggu, kutengok kembali langit Jakarta dari jendela gerbong kereta. Gelap di sebelah selatan, tapi masih terang di sebelah utara. Duh, semoga tidak hujan sampai Aku tiba di tempat tujuan, doaku dalam hati. Pikiranku berkecamuk. Bagaimana jika nanti hujan deras? Sepatuku basah, padahal masih ada acara malam harinya.
Kereta memasuki wilayah kampus UI. Tercium bau tanah yang baru saja terguyur hujan dan udara berubah menjadi agak dingin. Aku turun di Stasiun UI. Menginjakkan kaki di peron stasiun, baru tersadar bahwa wilayah kampus UI baru saja selesai diguyur hujan. Aku beruntung, pikirku sambil tersenyum melihat langit.
Sesampainya di tempat tujuan, aku langsung menuju wastafel untuk cuci tangan. Saat jalan menuju spot, ada yang memanggilku. Ternyata dia sudah tiba. Bersama menuju ke tempat makan kemudian ngobrol dan bertukar cerita. Langit Depok terlihat agak gelap. Khawatir sempat mendatangiku. Tapi ternyata hujan tidak turun. Hanya sebentar saja pertemuan kami, karena malamnya masing-masing dari kami ada acara. Dia harus ke Bintaro, sementara Aku harus ke Thamrin. Lagi-lagi sempat bingung. Mau naik apa ke Thamrin? Bus? Atau kereta? Pilihan awalku jatuh pada kereta, tapi kucoba menunggu bus ke arah Tanah Abang. Satu jam menunggu bus tapi ternyata tidak datang juga, akhirnya kembali ke pilihan awal untuk naik kereta. Sempat lama dan khawatir menunggu datangnya kereta. Takut telat dan takut hujan. Dan lagi-lagi, hujan tidak turun. Tapi mungkin sudah jalannya si kereta datang agak lama, karena toh saat sampai di tempat tujuan di Thamrin, teman-teman belum berkumpul. Alhamdulillah untuk semuanya.
Semua detail kehidupan sudah diperhitungkan oleh Tuhan. Begitu sayangnya Sang Khalik padaku, tidak dibiarkannya Aku kehujanan. Sederhana saja, Tuhan tahu aku pakai Converse dan masih ada acara malam harinya, jadi Aku tidak dibiarkan basah kuyup. Converse susah kering. Tuhan juga tahu kapan persisnya teman-temanku berkumpul di Thamrin, jadi Tuhan membuatku menunggu bus dan kereta agar aku tidak menunggu lama di Thamrin dan (mungkin) membuatku lebih lama menghabiskan waktu bersama dia.
Terima kasih atas segala yang telah Engkau berikan.
Segala detail kehidupanku.
Segala anugerah dari-Mu.
I love You, Allah :)
Mari mulai.
Pakai baju apa? Pakai alas kaki yang mana? Bawa jaket atau tidak? Akhirnya keputusan pun diambil. Aku mengenakan baju saat pertama kali bertemu dengannya. Sempat bingung memilih alas kaki apa yang akan digunakan berhubung ini musim hujan. Sandal? Atau malah sepatu? Kutengok sebentar ke arah langit. Terang. Cenderung panas, menurutku. Akhirnya kuputuskan untuk mengenakan sepatu. Ya, Converse merahku sepadan dengan warna bajuku. Penampilanku nyaris sama dengan saat pertama kali bertemu dengannya. Hanya saja tak kubawa serta jaketku karena kupikir tidak akan hujan.
Bismillah. Berangkat menuju Depok.
Ojek beralih ke metro mini menuju Stasiun Tebet. Turun dari metro mini, pas sekali ada kereta yang akan datang ke arah Bogor. Segera kubeli karcis ekonomi di loket dan masuk ke peron. Kereta datang. Penuh sesak bermacam manusia kulihat di gerbong-gerbongnya. Kuputuskan tak jadi menaikinya dan menunggu kereta selanjutnya. Berharap tak harus menunggu lama untuk kereta berikut. Bersabar menunggu, akhirnya harapan itu menjadi kenyataan. Kereta berikutnya datang tak lama kemudian. Dan terlihat jauh lebih lowong. Alhamdulillah, mungkin ini hadiah dari sedikit kesabaranku, ujarku dalam hati. Semoga tidak telat sampai di sana. Di daerah Pasar Minggu, kutengok kembali langit Jakarta dari jendela gerbong kereta. Gelap di sebelah selatan, tapi masih terang di sebelah utara. Duh, semoga tidak hujan sampai Aku tiba di tempat tujuan, doaku dalam hati. Pikiranku berkecamuk. Bagaimana jika nanti hujan deras? Sepatuku basah, padahal masih ada acara malam harinya.
Kereta memasuki wilayah kampus UI. Tercium bau tanah yang baru saja terguyur hujan dan udara berubah menjadi agak dingin. Aku turun di Stasiun UI. Menginjakkan kaki di peron stasiun, baru tersadar bahwa wilayah kampus UI baru saja selesai diguyur hujan. Aku beruntung, pikirku sambil tersenyum melihat langit.
Sesampainya di tempat tujuan, aku langsung menuju wastafel untuk cuci tangan. Saat jalan menuju spot, ada yang memanggilku. Ternyata dia sudah tiba. Bersama menuju ke tempat makan kemudian ngobrol dan bertukar cerita. Langit Depok terlihat agak gelap. Khawatir sempat mendatangiku. Tapi ternyata hujan tidak turun. Hanya sebentar saja pertemuan kami, karena malamnya masing-masing dari kami ada acara. Dia harus ke Bintaro, sementara Aku harus ke Thamrin. Lagi-lagi sempat bingung. Mau naik apa ke Thamrin? Bus? Atau kereta? Pilihan awalku jatuh pada kereta, tapi kucoba menunggu bus ke arah Tanah Abang. Satu jam menunggu bus tapi ternyata tidak datang juga, akhirnya kembali ke pilihan awal untuk naik kereta. Sempat lama dan khawatir menunggu datangnya kereta. Takut telat dan takut hujan. Dan lagi-lagi, hujan tidak turun. Tapi mungkin sudah jalannya si kereta datang agak lama, karena toh saat sampai di tempat tujuan di Thamrin, teman-teman belum berkumpul. Alhamdulillah untuk semuanya.
Semua detail kehidupan sudah diperhitungkan oleh Tuhan. Begitu sayangnya Sang Khalik padaku, tidak dibiarkannya Aku kehujanan. Sederhana saja, Tuhan tahu aku pakai Converse dan masih ada acara malam harinya, jadi Aku tidak dibiarkan basah kuyup. Converse susah kering. Tuhan juga tahu kapan persisnya teman-temanku berkumpul di Thamrin, jadi Tuhan membuatku menunggu bus dan kereta agar aku tidak menunggu lama di Thamrin dan (mungkin) membuatku lebih lama menghabiskan waktu bersama dia.
Terima kasih atas segala yang telah Engkau berikan.
Segala detail kehidupanku.
Segala anugerah dari-Mu.
I love You, Allah :)
